Ilustrasi marka chevron di percabangan jalan tol. (Octa Saputra)

kartikanews.com — Saat melewati jalan tol, pengguna jalan pasti akan menemukan marka khusus yang biasanya terletak di persimpangan menuju pintu keluar tol.

Tanda ini disebut marka chevron atau marka serong, dengan bentuk garis utuh tidak terputus sebagai tanda larangan untuk diinjak atau dilindas.

Sesuai dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 34 Tahun 2024, dijelaskan marka chevron adalah marka jalan membentuk garis utuh yang tidak termasuk dalam pengertian marka membujur atau marka melintang, untuk menyatakan suatu daerah permukaan jalan bukan merupakan jalur lalu lintas kendaraan.

Perlu diketahui, marka chevron umumnya dipasang pada lokasi pertemuan dua jalur guna mencegah kecelakaan di jalan tol. Bahkan, pada beberapa ruas jalan tol yang rawan kecelakaan juga dipasang marka chevron meski tidak ada percabangan jalan.

Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi Ahmad Wildan mengatakan, marka ini memberikan ilusi visual yang mencegah pengemudi melaju kencang.

“Marka chevron reducing marking jadi rekomendasi KNKT untuk mengurangi speeding di jalan tol yang sering terjadi. Marka akan menginformasikan ke pengemudi akan adanya penyempitan jalan sehingga secara reflek otak memerintah untuk menurunkan kecepatan,” ucap Wilda kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Perlu diketahui, jika pengguna jalan dengan sengaja menginjak atau melintasi marka chevron maka akan dikenakan sanksi.

Aturan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 287 ayat 1. Dalam aturan tersebut tertulis, ada saksi pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp 500.000 bagi pelanggaran marka jalan.

sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 + = 29